BEDEBAH DIUJUNG TANDUK

RESENSI BUKU “BEDEBAH DIUJUNG TANDUK”

Judul                           : Bedebah Diujung Tanduk

Penulis                        : Tere Liye

Penerbit                      : PT Sabak Grip Nusantara

Tahun terbit               : 2018

Jumlah halaman       : 415 halaman

Genre                           : Novel Aksi

ISBN                            : 978-623-97262-1-8

Latar Belakang Serial

Novel ini menggabungkan dua serial yang sebelumnya berjalan terpisah: Thomas, karakter utama di Negeri Para Bedebah (2012) dan Negeri di Ujung Tanduk (2013) sebagai konsultan keuangan handal; serta Bujang, tokoh utama di Pulang (2015) dan Pergi (2018). Mereka pertama kali berkolaborasi di novel Pulang-Pergi. Di buku ini, porsi sorotan berbalik: jika di Pulang-Pergi Bujang menjadi karakter utama, maka di Bedebah di Ujung Tanduk Thomas-lah yang mengambil peran sentral.

Sinopsis

Cerita bermula ketika Bujang dan Thomas sedang melakukan duel tinju di klub petarung, lalu tiba-tiba dikejutkan dengan serangan mendadak yang menjadi titik mula pertarungan besar mereka. Thomas tanpa sadar terlibat dalam transaksi jual beli lahan pegunungan yang mengandung deposit plutonium lalu sebuah kesalahan fatal yang mengancam nyawanya dan membangkitkan amarah musuh besar dari persembunyian mereka, yaitu kelompok Teratai Emas.

Untuk menghadapi musuh yang begitu kuat ini, Thomas dan Bujang terpaksa mengumpulkan kembali kawan-kawan lama mereka, Tuan Salonga, Junior, Ayako, White, hingga Meggie. Petualangan mereka membawa pembaca ke medan yang eksotis dan mendebarkan.

Keunggulan Novel

Jika kamu menginginkan sebuah novel pertarungan layaknya film laga yang menegangkan, novel ini sangat cocok. Adegan demi adegan aksi membuat pembaca sulit berhenti. Tere Liye piawai mengolah riset yang dilakukannya menjadi latar cerita yang kuat dan memikat, termasuk menyisipkan pengetahuan sejarah seperti kisah Jalur Sutra yang dikuasai oleh kelompok Teratai Emas.

Setting lokasi menjadi pilihan yang cerdas, mengeksplor negeri seribu benteng dan negeri atap dunia (Nepal dan Bhutan), termasuk pertempuran di atas helikopter di atas pegunungan Himalaya hingga adu kekuatan di lereng gunung.

Gaya bahasa yang digunakan Tere Liye cukup mudah dimengerti, dengan sound effect yang menambah kesan dramatis pada setiap adegan aksi seperti WUSS! dan BUKK! Sifat setia kawan para tokoh juga terasa kuat, di mana mereka lebih memilih mati daripada meninggalkan satu sama lain.

Dari sisi teknis penulisan, buku ini hampir tanpa typo sebuah pencapaian yang patut diapresiasi.

Kekurangan Novel

Beberapa pembaca merasa alur novel ini agak terlalu mirip dengan Pulang-Pergi pola diserang, dibantu, menang sehingga kurang memberikan kejutan besar di pertengahan cerita. Selain itu, bagi yang belum membaca seri sebelumnya, beberapa referensi karakter mungkin terasa membingungkan meski cerita tetap bisa diikuti secara garis besar.

Pesan Moral

Novel ini banyak yang bisa diambil dan terselip dalam dialog para tokohnya. Salah satu yang paling berkesan:

“Hati yang bersih selalu mampu menemukan alasan untuk memaafkan dan mengasihi. Hati yang kotor, selalu bisa membuat alasan untuk membenci dan memusuhi.” hal. 102

Kisah Thomas juga mengajarkan bahwa seorang bedebah pun bisa bertanggung jawab atas kesalahannya dengan meminta maaf atas perbuatan yang telah dilakukan.

Kesimpulan

Bedebah di Ujung Tanduk adalah novel aksi yang memuaskan, memadukan ketegangan fisik, intrik ekonomi dunia bayangan (shadow economy), dan nilai-nilai kehidupan yang dalam. Novel ini sangat cocok dibaca dalam sekali duduk lebih dari 400 halaman bisa habis dalam sekitar 10 jam bagi pembaca yang sudah jatuh cinta pada serial ini. Sangat direkomendasikan, terutama bagi penggemar setia Tere Liye yang mengikuti perjalanan Thomas dan Bujang sejak awal.

 

Fadhila Salwa Cahya Putri