TIGA DALAM KAYU

RESENSI BUKU “TIGA DALAM KAYU”

Judul: Tiga dalam Kayu

Penulis                        : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit                       : Kepustakaan Populer Gramedia

Kota terbit                   : Jakarta

Tahun terbit                : 2022

Jumlah halaman        : 168 halaman

Bahasa                         : Indonesia

ISBN                             : 9786024817817

Dalam labirin narasi masa depan yang dijaga oleh perpustakaan yang digambarkan sebagai  tempat pembuangan sampah bagi orang hidup dan suaka perlindungan bagi harta orang mati,  “Tiga Dalam Kayu” menawarkan sebuah eksplorasi literasi yang unik dan menantang. Ziggy  Zezsyazeoviennazabrizkie, melalui karya ini, mengundang pembaca untuk menyelami sebelas  buku yang masing-masing membawa cerita tersendiri—cerita yang terasa asing namun dekat,  cerita yang terpisah-pisah namun terikat oleh benang merah yang sama. Novel ini bukan  sekadar kumpulan cerita, ini adalah kritik sosial yang tajam, disampaikan dengan ironi yang  pahit dan sindiran yang menggigit.

Penulis dengan mahirnya menggunakan imajinasi yang mencerminkan realitas, memudahkan  pembaca untuk terhanyut dalam alur cerita yang tak terduga dan diksi yang unik. Setiap cerpen  dalam novel ini tidak hanya menghibur tetapi juga mengandung pesan sosial yang mendalam,  menunggu untuk diungkap oleh pembaca yang cerdas. Namun, gaya bahasa yang nyeleneh dan  tersirat membuat beberapa pembaca merasa kesulitan untuk mengikuti dan memahami inti  cerita. Isu yang diangkat mungkin terasa ringan, namun cara penyampaian yang kompleks  dapat menjadikan novel ini terasa berat.

Karakter utama, seorang gadis yang menemukan sebelas buku di perpustakaan masa depan,  menjadi simbol keberanian dan ketabahan dalam menghadapi peristiwa yang sering kali terasa  ganjil dan asing. Melalui interaksi dengan cerita-cerita dalam buku-buku tersebut, dia mulai  menyadari adanya benang merah yang menghubungkan semua cerita itu, menunjukkan bahwa  dia adalah karakter yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki kemampuan analitis yang tajam.

Penutup cerita ini memberikan dampak yang kuat dan sebuah ironi. Ziggy dengan cermat  merajut kesudahan yang membahagiakan, meskipun tersirat dan mampu menyentuh hati  pembaca. Penulis mengangkat isu tentang tragisnya menjadi perempuan dan anak dalam  masyarakat dengan cara yang berani dan langsung, menyinggung berita-berita terkini dengan  selipan amarah dan emosi yang terkandung dalam narasi.

Novel ini tidak terlepas dari penggambaran kekerasan yang terperinci, yang mungkin tidak  sesuai untuk semua pembaca. Deskripsi grafis tentang pembunuhan, mayat, dan kekerasan  lainnya dapat memicu reaksi tidak pembaca, terutama mereka yang sensitif terhadap konten  semacam ini. Meskipun kekerasan dalam cerita sering kali digunakan untuk memperkuat pesan  atau tema, dalam kasus “Tiga Dalam Kayu”, beberapa pembaca mungkin merasa bahwa  penggunaan kekerasan tersebut terlalu berlebihan dan dapat mengaburkan pesan yang ingin  disampaikan oleh penulis.

Secara keseluruhan, “Tiga Dalam Kayu” adalah sebuah karya sastra yang berani dan berbeda,  yang tidak hanya memberikan hiburan tetapi juga menjadi sarana bagi pembaca untuk berpikir  lebih dalam tentang isu-isu penting yang dihadapi oleh banyak orang, khususnya perempuan  dan anak-anak, dalam kehidupan nyata. Novel ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang  mencari tantangan intelektual dan kegilaan imajinasi, serta bagi mereka yang siap menghadapi  topik yang berat dan sensitif dengan pemahaman yang mendalam.

 

Khoiriyah Balqis